Entah kenapa sore itu perasaan suciati sanggat malas sekali. padahal sebelumnya dia tak pernah begitu. Malah dia terkenal rajin dan tak mau diam. biasanya setelah mengeloni putrinya tidur siang, ia akan beres-beres rumah. setlah putri nya bangun ia akan menemani putrinya main lalu memandikannya, memasak untuk makan malam, menyiapkan kopi untuk suaminya dan lain sebagainya. tetapi sore itu perasaan suciati benar-benar sangat malas. sekujur tubuhnya pun sangat lemas. sehingga walau jam menunjukan angka empat sore, namun suciati masih tampak tidura. padahal putrinya sudah bangun dan belum tidur, putrinya belum di mandikan. Rumah juga belum iya benahi. tak lama lagi suaminya akan pulang dari kerjanya. kalau suaminya pulang putri mereka belum dimandikan, suaminya pasti akan kecewa. berpikir akan hal itu, suciati pun akhirnya dengan masih agak malas bangun dari rebahannya. turun dari ranjang, kemudian melangkah keluar dari kamar tidur. keruang tamu. dan ketika melihat putrinya ada di sana, suciati kemudian menghampiri putrinya yg sedang menyaksiakan filim kartun di televisi.
''putri...."
''ya,Bu?''
''mandilah dulu kalau ayahmu pulang kalau kamu belum mandi nanti ayahmu marah. Ayo mandi dulu nanti kalau udah mandi baru nonton tv lagi '' bujuk suciati berusaha mengajak putrinya yg masih berusia lima tahun itu untuk mandi.
''tanggung, Bu. sebntar lagi juga habis..."
"baiklah... kalau film kartunnya sudah habis segeralah mandi"
"iya,Bu."
"jangan sampai nambah ya karena ayahmu tak lama lagi pulang"
"iya,bu"
suciati kemudian melangkah meningalkan ruang tamu menuju ke dapur untuk memasak air untuk mengisi termos dan membuat kan kopi suaminya. begitu setalah sampai kedapur suciati pun mulai meletakan panci yg berisi air untuk di masak.
kemudian suciati pun kembali ke ruang tamu dimana putrinya lagi berada, namun ternyata putrinya sudah berada dan siap untuk mandi . suciati pun membimbingnya ke kamar mandi, dan memandikannya. setalah selasai . iya mengajak kekamar . mengeringkan tubuh putrinya dengan handuk, handuk lalu memakaikan nya pakaian anaknya.
ia kembali kedapur membuat kopi untuk suaminya. dia ambil sebuah gelas dari rak, meletakkan-nya di meja, kemudian meracik kopi dan gula kedalam gelas.
air mendidih. suciati mengkat penutup panci. meletakkan nya di meja lalu diambilnya gayung plastik dari rak yg khusus untuk menciduk air panas. kemudian di ciduk kan nya kedalam gelas berisi racika gula dan kopi.
PRAKKK !
tiba-tiba gelas berisikan gula dan kopi yg di tuangi dengan air panas pecah menjadi dua.
''pecah ...!" desisinya tertegun.
setelah tertegun beberapa saat suciati pun segera mengambil lap, dan megelap meja yg tertumpahan air yg telah bercampur gula dan kopi.membuang pecahan gelas ke tempat sampah. kemudian mengambil sebuah gelas dan meletakkannya di atas meja. meracik gula dan kopi kedalam gelas itu, lalu menciduk air panas ke gelas itu.
PRAKK !
Untuk kedua kalinya gelas kembali pecah.
""ya Tuhan, pertanda apa ini?" desisinya dengan wajah cemas.
seketika itu pun suciati teringat akan petuah orang tua yg mengatakan apabila perabotan dapurnya pecah berturut turut, itu pertanda tidak baik, karena itu merupakan pertanda akan terjadi sesuatu yg tidak di inginkan pada kerabat atau orang yg selama ini dekat dengan nya .
ingatan suciati pun seketika melayang pada anak dan suaminya . ya hanya suami dan anaknya lah yg dekat dengan dirinya karena suciati di besar kan di panti asuhan.
anak nya tak mungkin karena anaknya sedang bersama dia. ibu pengasuh juga tak mungkin karena ibu pengasuh suciati telah meninggal dunia dua tahun yg lalu.
"ya Tuhan, lindungilah suamiku. semoga tidak terjadi apa-apa pada dirinya " desah suciati lirih.
suciati masih terdiam di dapur dengan wajah menunjukan ketegangan dan rasa takut setelah dua kali mendapat kan gelasnya pecah. tak lama kemudian putrinya datang menemui dan memebri tahukan bahwa ada tamu.
'Bu, ada tamu."
"siapa?"
"teman ayah"
"teman ayah yg mana?"
"yg kerjadi pabrik dengan ayah."
"ohh..."
suciati pun bergegas menuju ke ruang tamu untuk menemui tamu yg datang kerumah nya.
"selamat sore, mbak" sapa dua orang tamu yg datang begitu melihat suciati.
"eh, dik mul dan dek tuti," sambut suciati.
"silahkan duduk.."
"makasih mbak"
Mulyadi dan hastuti pun duduk.
"kalian sengaja main kemari?"
"ya,mbak" jawab astuti.
"loh, kok tidak bareng sama mas rian?"
ditanya begitu mulyadi dan hastuti saling pandang. lalu dengan wajah murung keduanya sama sama menundukan kepala. hal itu membuat suciati mengerutkan kening.
"ada apa ...?"tanya suciati.
"kenapa kalian diam? katakan lah, ada apa? apa yg terjadi dengan mas rian?" desak suciati dengan mata mulai berkaca, memandang ke arah kedua tamunya.
"pak rian dan empat bawahan nya mengalami kecelakaan, mbak"tutur astuti dengan wajah masih murung
"dimana? dan bagaimana keadaan nya ?" tanya suciati.
"di pabrik," jawab Mulyadi. kardus-kardus yg berisi pakaian menimpa pak rian dan keempat bawahannya. keempat bawahannya langsung meninggal di tempat. sedangkan pak rian sedang berada di rumah sakit."
"ya Tuhan...!" desis suciati seraya menangis sambil memeluk putrinya.
"jika mbak ingin menjenguk, biar kami antar kerumah sakit," ajak astuti.
"baiklah. sebentar saya dan putri bersiap siap dulu."
"silahkan, mbak.kami menunggu."
suciati pun segera meninggalkan ruang tamu dan segera masuk kekamar untuk mempersiapkan segalanya yang akan dibawanya kerumah sakit. setelah selesai, dia pun kembali keluar menemui tamunya.
"ayo," ajak suciati.
"mari,mbak."
dengan di antar mulyadi dan astuti yg memang tahu dimana rian dirawat, suciati dan putrinya pun pergi meninggalkan rumah.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar